Showing posts with label proposal. Show all posts
Showing posts with label proposal. Show all posts

Sunday, 9 October 2016

Proposal Skripsi Bagian 4

Lampiran 1

PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ……………………………..
Alamat : ……………………………..
Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul “Hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri”.
Saya tidak akan menuntut terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam penelitian ini. Demikian surat pernyataan persetujuan ini saya sampaikan dengan sadar dan tanpa ada paksaan siapapun.

Responden
Peneliti


( ……………………… )
(Ahmad Santoso)



Lampiran 2
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI, KECAMATAN WONOGIRI

Identitas Siswa
Nama  : …………………………………
Kelas  : …………………………………
Jenis Kelamin : …………………………………
Petunjuk Pengisian
Bacalah dengan teliti setiap pertanyaan sebelum memilih jawabannya.
Semua pertanyaan harus diberi jawaban.
Berilah tanda (x) pada kolom jawaban, sesuai dengan pilihan.
Keterangan :
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
KS = Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju




Kuesioner Intensitas Menonton Televisi

No.
Pernyataan
SS
S
R
TS
STS

1.
Saya tidak terlalu sering menonton televisi.




2.
Saya lebih senang menonton televisi ketika libur dan tidak ada tugas.




3.
Saya bebas menonton televisi kapan saja.




4.
Setiap hari saya menonton televisi.




5.
Ketika menonton televisi, saya dapat menghabiskan waktu lebih dari 5 jam.




6.
Orang tua saya memberitahu acara yang layak dan tidak layak ditonton oleh saya.




7.
Orang tua saya melarang saya menonton televisi terlalu lama.




8.
Ketika menonton televisi, saya didampingi orang tua/wali.




9.
Kalau ada ulangan, saya sama sekali tidak boleh menonton televisi.




10.
Saya menonton televisi sejak pulang sekolah hingga malam hari.




11.
Ketika malam saya menonton televisi lebih dari pukul 21.00 WIB.




12.
Saya senang menonton acara berita, edukasi dan acara yang menambah wawasan.




13.
Saya senang sekali menonton acara komedi dan sinetron.




14.
Terlalu sering menonton televisi membuat nilai saya menurun.




15.
Saya melakukan kegiatan belajar atau mengerjakan PR tidak sambil menonton televisi.




16.
Saya lebih senang belajar daripada menonton televisi.




17.
Saya menunda kegiatan belajar saya, untuk menikmati acara televisi yang sangat saya sukai.




18.
Menonton televisi adalah hobi saya.




19.
Saya selalu berusaha untuk menonton acara televisi, yang sering dibicarakan oleh teman- teman saya.




20.
Ruangan untuk menonton televisi dirumah saya membuat saya merasa nyaman.





      




Lampiran 3

DAFTAR NAMA SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI
NO
NAMA
KELAS
JENIS KELAMIN

1
Ardi Firmasnyah
Lima
Laki-Laki

2
Erlin Mei Hastantri
Lima
Perempuan

3
Rian Ardiansyah
Lima
Laki-Laki

4
Usnul Khotimah
Lima
Perempuan

5
Alfian Gilang
Lima
Laki-Laki

6
Amelia Putri
Lima
Perempuan

7
Anna Fasmaun
Lima
Perempuan

8
Aprilia Rahadatul
Lima
Perempuan

9
Bagas Tri
Lima
Laki-Laki

10
Bima Aditya
Lima
Laki-Laki

11
Cicilia Giska
Lima
Perempuan

12
Emi Purwanti
Lima
Perempuan

13
M.Arya
Lima
Laki-Laki

14
Mutia Nurul
Lima
Perempuan

15
Nur Aini
Lima
Perempuan

16
Pingkan Zahro
Lima
Perempuan

17
Sinta Lukmana
Lima
Perempuan

18
Wahyu Fursan
Lima
Perempuan

19
Diesta Wira
Lima
Perempuan

20
Apriliya Putri
Lima
Perempuan

21
Putri Ayu
Lima
Perempuan

22
Wiji Rahayu
Lima
Perempuan

23
M.Ikhsan
Lima
Laki-Laki

Total Keseluruhan                                                                              : 23

Total Laki-Laki                                                                                   : 7

Total Perempuan                                                                                 : 16



Lampiran 4

DAFTAR RIWAYAT PENDIDIKAN PENULIS

Berikut ini adalah data lengkap dari peneliti proposal dengan judul “Hubungan Intensitas Menonton Televisi dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Nama 
TTL
NIM :
Riwayat Pendidikan Peneliti :
SD Negeri 1 Manjung, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2006
SMP Negeri 2 Wonogiri, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2009
SMK Negeri 2 Wonogiri, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2012
Mahasiswa STAIMUS Semester terakhir
Demikian riwayat pendidikan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagai mestinya
Wonogiri,   April 2016

Proposal Skripsi Bagian 3

digolongkan menjadi dua bagian yaitu :
Faktor - faktor fisiologis
Aspek Fisiologis, seperti keadaan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga menurunkan prestasi belajarnya, kondisi organ-organ indera yang terganggu juga menjadi penyebab siswa mengalami gangguan hasil belajar.
Faktor - faktor psikologis.
Aspek Psikologis, banyak faktor dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas prestasi pembelajaran siswa, diantara faktor ruhaniah yang mempengaruhi prestasi belajar anak antara lain tingkat kecerdasan/ intelegensi siswa, sikap, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
Sedangkan menurut Hamalik (2001), membagi secara lebih rinci dan lebih operasional ke dalam beberapa komponen diantaranya yaitu :
Faktor yang berasal dari diri sendiri, meliputi :
Kondisi kesehatan sering terganggu
Kurang niat terhadap mata pelajaran
Tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam belajar
Kecakapan dalam mengikuti pelajaran
Kebiasaan belajar dan kurangnya kemampuan bahasa.
Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah, meliputi :
Kurangnya alat pelajaran
Kurangnya buku bacaan
Cara yang digunakan pengajar dalam memberikan materi pelajaran
Bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan kemampuan
Penyelenggaraan pelajaran yang terlalu padat.

Faktor - faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga, meliputi :
Masalah bertamu, menerima tamu dan kurang perhatian orang tua
Masalah kemampuan ekonomi
Masalah putus sekolah (broken home)
Rindu terhadap kampung
Faktor-faktor bersumber dari lingkungan masyarakat, meliputi :
Masalah gangguan dari jenis kelamin
Bekerja sambil belajar
Aktif organisasi/tidak dapat mengatur waktu senggang
Tidak mempunyai teman belajar/teman memecahkan masalah.
HIPOTESIS
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha = Ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Ho = Tidak ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri


METODE PENELITIAN
Metode Penelitian.
Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan model pendekatan cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas atau resiko dan variabel terikat atau variabel akibat dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).
Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Wonogiri yang berjumlah 23 anak.
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010). Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini diambil dari kelompok Non Probability Sampling yaitu sampling jenuh (total sampling).
Menurut Sugiyono (2010) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, dimana seluruh anggota populasi yang berjumlah 23 siswa digunakan sebagai sampel dikarenakan jumlah anggota populasi kurang dari 30 orang.
Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni 2016 di kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat Dusun Sumbersari, Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kode Pos 57651.
Variabel Penelitian.
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006). Variabel dalam penelitian ini adalah :
Variabel Bebas (Independen)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas menonton televisi.
Variabel terikat (Dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa.
Teknik Pengumpulan Data
Sumber Data
Data adalah hasil pencatatan penelitian, baik yang berupa angka ataupun fakta. Data juga berarti bahan keterangan tentang suatu obyek penelitian yang diperoleh di lokasi penelitian.Data yang ada dalam penelitian ini, dilihat dari sumbernya ada dua macam, yaitu :
Data Primer
Data primer diperoleh seorang peneliti langsung dari obyeknya. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung dengan siswa terkait mengenai intensitas menonton TV dan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa yang diukur dengan kuesioner.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari hasil dokumentasi dari berbagai sumber, meliputi :
Referensi buku yang berisi teori yang relevan terhadap obyek yang diteliti.
Artikel maupun jurnal dari suatu media tertentu yang sesuai dengan obyek yang diteliti.
Profil sekolah dan data siswa dari bagian tata usaha
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara dilakukan dengan tanya jawab terhadap siswa di kelas V SD Negeri 3 Purwosari yang terkait dengan objek penelitian menggunakan kuesioner terstruktur.

Analisis Data
Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Analisis dilakukan dengan distribusi frekuensi dari tiap – tiap variabel independen (intensitas menonton televisi) dan variabel dependen (prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa).
Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (intensitas menonton televisi) dengan variabel dependen (prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa) di kelas V SD Negeri 3 Purwosari yang dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank dan menggunakan komputerisasi program uji statistik kesehatan dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Rumus Spearman Rank (Sugiyono, 2010) sebagai berikut :


Keterangan :
ρ = koefisien korelasi Spearman Rank
bi = beda antara rangking data kelompok 1 dan kelompok 2
n = jumlah sampel
Jika jumlah sampel 23≤ N≤ 50, maka untuk menguji signifikasi menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan: t = nilai statistik hitung
n = jumlah sampel
ρ = koefisien korelasi Spearman Rank
Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan t hitung dengan t tabel, maka kriteria pengujian adalah :
Jika t hitung ≥ t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

KERANGKA PENULISAN SKRIPSI
Bab I Pendahuluan, yang berisi mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, penegasan judul, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori berisi pengertian intensitas menonton televises dan prestasi belajar siswa beserta landasan teori yang akan mengemukakan tentang berbagai macam teori yang dikemukakan pakar - pakar pendidikan atau di bidangnya.
Bab III Laporan Hasil Penelitian berisi Gambaran Umum SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri khususnya untuk kelas V, latar belakang dan sejarah berdirinya, dan yang lebih spesifik yaitu tentang intensitas siswa menonton televisi yang berhubungam dengan prestasi belajar siswa yang menjadi garis besarnya.
Bab IV Analisis Data berisi Analisis hubungan intensitas menonton acara televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, didalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisis hubungan yang sudah dibahas tersebut.
Bab V Penutup, dalam bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan, saran - saran dan penutup

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta : Bina Aksara
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
Hofsteede, Wilhelmus M.F. 1991. Pembangunan Masyarakat: Kumpulan Karangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
http://Erabaru.net/kehidupan/54-keluarga/226-menghindari-efek-negatif-nonton-tv-pada-anak diakses pada tanggal 29 Maret 2016
http://id.wikipedia.org/wiki/televisi diakses pada tanggal 29 Maret 2016
http://Sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/ diakses pada tanggal 29 Maret 2016
Herawati, Netty. 2007. Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Film Kekerasan Di Televisi Terhadap Perubahan Perilaku Peserta Didik. Skripsi. Semarang :  tarbiyah IAIN Walisongo
L. Pasaribu dan B. Simanjuntak. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Oemar, Hamalik. 2001. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Jakarta : PT. Gramedia
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Triyani, Erlis. 2011. Pengaruh Antara Jumlah Jam Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa. Ponorogo : STKIP PGRI Ponorogo
Wijayanti, Nur Salamah. 2009. Pengaruh Media Audiovisual dan Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Pemahaman Unsur Instrinsik Cerita Rakyat pada Siswa Kelas V SD negeri 02 Slawi Kabupaten tegal Tahun pelajaran 2009/2010. Surakarta: Fakultas Keguruan daan Ilmu Pendidikan Universitas sebelas maret

Proposal Skripsi Bagian 2

Arah sikap
Sikap sebagai suatu kesiapan pada diri seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal yang bersifat positif ataupun negatif. Dalam bentuknya yang negativ akan terdapat kecendrungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, bahkan tidak menyukai objek tertentu. Sedangkan dalam bentuknya yang positif kecendrungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Contohnya apabila siswa menyenangi materi tertentu maka dengan sendirinya siswa akan mempelajari dengan baik, sedangkan apabila tidak menyukai materi tertentu maka siswa tidak akan mempelajari kesan acuh tak acuh.
Minat
Minat timbul apabila individu tertarik pada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan bahwa sesuatu yang akan digeluti memiliki makna bagi dirinya. Minat ini erat kaitannya dengan kepribadian dan selalu mengandung unsur afektif, kognitif, dan kemauan. Ini memberikan pengertian bahwa individu tertarik dan kecendrungan pada suatu objek secara terus menerus, hingga pengalaman psikisnya lainnya terabaikan. Pengertian menonton televisi adalah suatu tindakan yang menarik yang tidak lepas dari dorongan dari masing-masing individu untuk menikmati apa yang ditayangkan oleh televisi, atau dengan kata lain tindakan menonton televisi adalah kesadaran seseorang terhadap sesuatu yang berhubungan dengan dorongan yang ada dalam diri individu sehingga seseorang  memusatkan perhatiannya terhadap acara yang ditayangkan televisi dengan senang hati serta dengan perasaan puas sehingga pemirsa dapat menikmati apa yang ditayangkan oleh televisi tersebut. Menonton berarti aktivitas melihat sesuatu dengan tingkat perhatian tertentu (Danim, 2004).
Menonton televisi, sebagaimana halnya aktivitas konsumsi yang lain, adalah sebuah proses aktif, baik antar partisipan maupun antara partisipan dan televisi, yang di dalamnya audiens tidak sekedar mengambil peran sebagai pihak yang secara aktif memilih aneka material media yang tersedia bagi mereka, melainkan juga aktif memakai, menafsir, serta mengawasi (decoding) material - material yang dikonsumsinya (Morley, 1995). Artinya, menonton televisi bukanlah sekedar aktivitas menyorotkan mata kearah layar kaca, melainkan bersifat multidimensi. Jadi intensitas menonton televisi disini merupakan tindakan atau keadaan seseorang yang menikmati tayangan di televisi dalam ukuran waktu tertentu dan menggambarkan seberapa sering serta memusatkan perhatiannya terhadap acara yang ditayangkan di televisi.
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam yaitu hasil yang telah dicapai anak didik dalam menerima dan memahami serta mengamalkan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan oleh guru atau orang tua berupa Pendidikan Agama Islam di lingkungan sekolah dan keluarga serta masyarakat, sehingga anak memiliki potensi dan bakat sesuai yang dipelajarinya sebagai bekal hidup di masa mendatang, mencintai negaranya, kuat jasmani dan ruhaninya, serta beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki solidiritas tinggi terhadap lingkungan sekitar. Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung - jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri Islam.
Bentuk-bentuk prestasi dalam pendidikan agama islam.
Pembahasan bentuk-bentuk prestasi belajar dalam skripsi ini meliputi prestasi belajar bidang kognitif (cognitive domain), prestasi belajar bidng afektif (afective domain), dan prestasi belajar bidang psikomotor (psychomotor domain). Secara garis besar pembahasan prestasi belajar sebagai berikut :
Prestasi Belajar Bidang Kognitif (CognitiveDomain)
Hasil belajar Pengetahuan Hafalan (Knowledge)
Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pengetahuan yang  sifatnya  faktual, di  samping  pengetahuan mengenai  hal-hal yang perlu diingat kembali seperti batasan, peristilahan, kode-kode tertentu, pasal hukum, ayat-ayat Al Quran atau Hadits, rumus, rukun shalat, niat, dan lain - lain.Peninjauan sudut respon belajar siswa pengetahuan itu perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasai dengan baik. Dalam hal ini pakar Psikologi Pendidikan R. Ibrahim dan Nana Syaoudih, menjelaskan bahwa belajar menghafal  merupakan  kegiatan  belajar yang menekankan penguasaan pengetahuan atau fakta tanpa memberi arti terhadap pengetahuan atau fakta tersebut.
Prestasi Belajar Pemahaman (Comprehension)
Pemahaman memerlukan kemampuan dari peserta didik untuk menangkap makna atau arti sebuah konsep atau belajar yang segala sesuatunya dipelajari dari makna. Makna atau arti tergantung pada kata yang menjadi simbul dari pengalaman yang pertama. Simbul-simbul yang mempunyai arti umum berguna bagi belajar, karena memberi simbol dan ekspresi hubungan dalam pengalaman dan menjadi jalan keluarnya ide. Ada tiga macam bentuk pemahaman peserta didik yang berlaku secara umum yaitu :
Pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalam materi.
Pemahaman penafsiran, misalnya memahami grafik, simbul, menggabungkan dua konsep yang berbeda yakni membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
Pemahaman ekstrapolasi, yakni kesanggupan peserta didik untuk melihat dibalik yang tertulis/implisit, meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan.
Prestasi Belajar Penerapan
Prestasi belajar penerapan belajar analisis yaitu kesanggupan menerapkan dan mengabtraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum, dan situasi  yang baru.
Prestasi Belajar Analisis
Hasil belajar analisis yaitu kesanggupan memecahkan atau menguraikan suatu intregritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti serta mempunyai tingkatan atau hirarki.
Prestasi  Belajar Sintesis
Hasil belajar sintesis yaitu kesanggupan menyatakan unsur atau bagian menjadi satu interitas (lawan dari analisis).
Prestasi  Belajar Evaluasi
Prestasi belajar evaluasi yaitu kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judment yang dimilikinya dan kriteria yang dipakainya.
Prestasi Belajar Bidang Afektif (Afective Domain)
Prestasi belajar afektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Prestasi belajar bidang afektif pada Pendidikan Agama Islam antara lain berupa kesadaran beragama yang mantap.
Prestasi Belajar Bidang Psikomotor (Psychomotor Domain)
Prestasi atau kecakapan belajar psikomotor adalah segala amal atau perbuatan jasmaniah yang kongkrit dan mudah diamati, baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka, sehingga merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya. Prestasi belajar bidang psikomotor pada Pendidikan Agama Islam antara lain kemampuan melaksanakan shalat, berwudhu, akhlak/perilaku, dan lain-lain.
Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang profesional mengetahui diperlukan suatu periode atau waktu untuk memahami konsep yang telah diajarkan kepada anak agar diperoleh tujuan atau hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru harus menyadari keberadaan anak dalam tahapan belajar Pendidikan Agama Islam. Menurut Mulyono Abdurrahman, ada empat tahapan prestasi belajar yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu :

Perolehan
Pada tahap ini anak telah terbuka terhadap pengetahuan baru tetapi belum secara penuh memahaminya. Anak masih memerlukan banyak dorongan dan pengaruh dari guru atau orang tua untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Contoh, kepada anak diperlihatkan pengetahuan tentang  shalat dan konsepnya dijelaskan sehingga anak mulai memahaminya.
Kecakapan
Pada tahap ini anak mulai memahami pengetahuan atau keterampilan tetapi masih memerlukan banyak latihan. Contoh, setelah anak memahami konsep dan pengetahuan tentang shalat, anak diberi banyak latihan dalam bentuk menghafal bacaan atau gerakan shalat, dan diberi macam-macam ulangan penguatan.
Pemeliharaan
Pada tahap ini anak dapat memelihara dan mempertahankan suatu kenerja taraf tingkat tinggi setelah pembelajaran langsung dan ulangan penguatan (reinforcement) dihilangkan. Contoh, anak dapat mengerjakan shalat secara cepat dan berurutan tanpa memerlukan pengarahan dan ulangan penguatan dari guru atau orang tua.
Generalisasi
Pada tahap ini anak telah memiliki atau menginternalisasikan pengetahuan yang dipelajarinya sehingga anak dapat menerapkan ke dalam berbagai situasi. Contoh, anak dapat mengerjakan berbagai macam shalat sesuai waktu dan kegunaannya, seperti shalat subuh di pagi hari, shalat dhuhur di siang hari, shalat hajat untuk terkabulnya doa, menghormati kepada orang yang lebih tua, mengasihi kepada yang lebih muda, dan lain-lain.
Problema belajar Pendidikan Agama Islam atau pendidikan umum tidak hanya terbatas pada ruang lingkup di sekolah saja, akan tetapi di dalam keluarga, di masyarakat dan adat istiadat serta keadaan geografis juga mempengaruhi belajar dan prestasi belajar seseorang. Keberhasilan belajar dan prestasi belajar seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal  atau  eksternal. Faktor  internal  adalah segala faktor yang bersumber dari dirinya sendiri, seperti faktor psikologis dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal yaitu segala faktor yang bersumber dari luar dirinya sendiri, seperti cuaca, ekonomi, agama, keluarga, sekolah dan sebagainya. Menurut Sumadi Suryabrata, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi dua faktor. Faktor - faktor yang berasal dari luar dirinya atau faktor eksogin, faktor ini digolongkan menjadi dua bagian, yaitu :
Faktor - faktor sosial
  Faktor Sosial, seperti lingkungan sekolah, keadaan guru, teman-teman belajar, masyarakat dan tetangga, serta orang tua atau keluarga sendiri, (sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, tata letak rumah dapat berdampak pada baik buruknya kegiatan belajar siswa yang pada gilirannya berpengaruh terhada prestasi belajar anak), peran keluarga dan pengaruh yang ditimbulkannya bukan hanya berdampak pada prestasi belajar saja tetapi juga cenderung anak berperilaku menyimpang.
Faktor - faktor non sosial
Faktor Nonsosial, seperti gedung sekolah dan letaknya, kondisi dan jarak jalan ke sekolah, rumah tempat tinggal siswa, media pembelajaran belajar, cuaca, suhu, waktu belajar yang digunakan (ada anggapan waktu belajar tidak berpengaruh hasil belajar, tetapi kesiapan sistem memori siswa dalam mengelola, dan menyerap item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari), dan lain - lain. Faktor - faktor yang berasal dari dirinya sendiri atau indogin, juga digolongkan menjadi dua bagian yaitu :

Proposal skripsi bagian 1

PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI, KECAMATAN WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2015/2016




Disusun Oleh :
Nama :
NIM   :
Jurusan Pendidikan Agama Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul Ulum Surakarta
(STAIMUS)
2016
LATAR BELAKANG MASALAH
Televisi kini telah menjadi salah satu bagian yang penting dalam keluarga. Hampir setiap rumah memiliki televisi. Tidak jarang kegiatan lainnya pun dilakukan sambil menonton televisi. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan televisi sebagai pengasuh, guru, penghibur atau bahkan sarana promosi dagang (Majid, 2009).
Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar memberikan dampak yang negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak (Sulastowo, 2009). Televisi sebagai media audio visual, mampu merebut 94% saluran masuknya informasi kedalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka tonton di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Dengan demikian terutama bagi anak - anak yang pada umumnya meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tersebut akan mengikuti acara televisi yang ditonton (Majid, 2009)
Berdasarkan hasil penelitian badan kesehatan dunia WHO pada 2004 bahwa kebiasaan menonton televisi yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan siaran televisi kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak - anak (Zubaedi,2005).
Fakta tentang pertelevisian Indonesia pada tahun 2002 bahwa jam tonton televisi anak-anak 5 - 8 jam/hari atau 1.560 - 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000 jam/tahun, 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasan, seks dan mistik yang berlebihan dan terbuka. Terdapat 800 judul acara anak dengan 300 kali tayang selama 160 jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam x 7 hari = 168 jam, 40% waktu tayang  di isi iklan yang jumlahnya 1.200 iklan/minggu, jauh di atas rata-rata dunia 561 iklan/minggu (Majid, 2009) .
Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Anwas, 2008).
Berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron - sinetron dan film - film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu mempengaruhi para pemirsannya (anak - anak, remaja, dan orang tua) untuk terus menyaksikan acara demi  cara yang dikemas sedemikian rupa, sehingga membuat pemirsanya terkagum - kagum dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang banyak anak - anak lebih suka berlama - lama didepan televisi dari pada belajar, bahkan hampir lupa akan waktu makannya. Problematika yang terjadi di lingkungan sekarang dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.
SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri merupakan SD yang sampai saat ini belum memiliki prestasi Pendidikan Agama Islam yang menonjol dibandingkan dengan SD di sekitar wilayah Wonogiri. Jumlah murid yang tidak banyak dan wilayah yang masih dalam kondisi pedesaan menyebabkan frekuensi belajar anak kurang yang diketahui dari lebih banyaknya siswa yang memiliki nilai Pendidikan Agama Islam berada dibawah rata - rata.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 5 siswa Kelas V di SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, mereka selama tiga tahun terakhir tidak mengalami peningkatan maupun penurunan prestasi Pendidikan Agama Islam secara signifikan, selanjutnya diketahui bahwa terdapat 4 murid yang menyatakan nonton televisi kurang lebih 5 jam sehari sedangkan 3 yang lain mengaku hanya 2 jam sehari.
Dari hasil observasi yang didapat dari buku laporan siswa diketahui bahwa 3 murid yang frekuensi menonton lebih kecil memiliki prestasi Pendidikan Agama Islam yang lebih baik dibandingkan 4 murid yang memiliki frekuensi menonton televisi yang lebih lama. Prestasi belajar pada dunia pendidikan adalah hasil pencapaian seseorang selama mengikuti pelajaran di sekolah yang berbentuk skor atau nilai (Sukmana, 2004). Pengukuran prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan tes, ujian dan ulangan.
Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
“Apakah ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri?”
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan antara intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Tujuan Khusus
Untuk mendeskripsikan intensitas menonton televisi siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Untuk mendeskripsikan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Untuk menganalisis hubungan antara intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Manfaat Penelitian
Manfaat Akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk memperkaya penelitian dan sumber bacaan serta ilmu khususnya untuk mahasiswa/mahasiswi STAIMUS jurusan tarbiyah.
Penelitian ini bisa digunakan untuk buku referensi penulisan skripsi di masa yang akan datang.
Manfaat Teoritik
Secara teoritis, sebagai wadah untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama penelitian dan menjadi mahasiswa Staimus jurusan pendidikan agama islam.
Memperkaya dan menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya bagi mahasiswa Staimus jurusan pendidikan agama islam.

Manfaat Praktis
Bagi Guru SD Negeri 3 Purwosari
Sebagai bahan kajian untuk guru SDN III Purwosari agar lebih memperhatikan kebiasaan peserta didiknya.
Sebagai pedoman dalam menentukan peningkatan profesionalisme kerja melalui peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas V SD Negeri 3 Purwosari, khususnya pada pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bagi Orang Tua/Wali Murid SD Negeri 3 Purwosari
Untuk lebih mengawasi anak ketika melihat televisi dan belajar.
Sebagai dasar untuk membatasi anak dalam menonton televisi di rumah.
Bagi Siswa Kelas V SD Negeri 3 Purwosari
Bisa lebih fokus untuk belajar dan mengurangi menonton televisi untuk lebih fokus pada kegiatan yang bersifat mendidik baik dari akademis maupun ketrampilan.
Menyadari bahwa televisi bukanlah satu - satunya media belajar.

KAJIAN PUSTAKA
Intensitas Menonton Televisi
Kata intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat (Echols, 1993). Menurut Hazim (2005), bahwa intensitas adalah kebulatan tenaga yang dikerahkan untuk suatu usaha. Jadi intensitas secara sederhana dapat dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan. Perkataan intensitas sangat erat kaitannya dengan motivasi, antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Intensitas merupakan realitas dari motivasi dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu peningkatan prestasi, sebab seseorang melakukan usaha dengan penuh semangat karena adanya motivasi sebagai pendorong pencapaian prestasi. Nuraini (2011) menyatakan intensitas memiliki beberapa indikator yaitu sebagai berikut :
Motivasi
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme (baik manusia maupun hewan) yang mendorongnya untiuk melakukan sesuatu. Disini motivasi berarti pemasok daya untuk berbuat atau bertingkah laku secara terarah. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri individu yang dapat melakukan tindakan, termasuk didalamnyan adalah perasaan menyukai materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang mendorong untuk melakukan tindakan karena adanya rangsangan dari luar individu, pujian dan hadiah atau peraturan sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan seterusnya, 12 merupakan contoh konkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Durasi kegiatan
Durasi kegiatan merupakan berapa lamanya kemampuan penggunaan untuk melakukan kegiatan. Dari indikator ini dapat dipahami bahwa motivasi akan terlihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan.
Frekuensi kegiatan
Frekuensi dapat diartikan dengan kekerapan atau kejarangan kerapnya, frekuensi yang dimaksud adalah seringnya kegiatan itu dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Misalnya dengan seringnya siswa melakukan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
Presentasi
Presentasi yang dimaksud adalah gairah, keinginan atau harapan yang keras yaitu maksud, rencana, cita - cita atau sasaran, target dan idolanya yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Bisa dilihat dari keinginan yang kuat bagi siswa untuk belajar.