Monday, 10 October 2016

Filsafat umum

FILSAFAT UMUM

A.    LATAR BELAKANG

Filsafat positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya apa yang telah diketahui adalah yang factual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacamasumsi (proyeksi) ke masa depan.
Beberapa tokoh dalam positivisme yaitu August Comte (1798-1857), John S.Mill (1806-1873) dan Herbert Spencer (1820-1903).
Dalam menyusun makalah ini akan lebih rinci hanya membahas tentang tokoh August Comte, tentang biografi, dan pemikiran-pemikiran belaiau.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Biografi Auguste Comte
2.      Pengertian Positivisme
3.      Perkembangan masyarakat terhadap positivisme
4.      Pluralitas ekstrim






BAB II
PEMBAHASAN

1.      Biografi Auguste Comte
Auguste Comte yang lahir di Montpellier, Perancis pada 19 Januari 1798, adalah anak seorang bangsawan yang berasal dari keluarga berdarah katolik. Namun, diperjalanan hidupnya Comte tidak menunjukan loyalitasnya terhadap kebangsawanannya juga kepada katoliknya dan hal tersebut merupakan pengaruh suasana pergolakan social, intelektual dan politik pada masanya.
Comte sebagai mahasiswa di Ecole Politechnique tidak menghabiskan masa studinya setelah tahu mahasiswa yang memberikan dukungannya kepada Napoleon dipecat, Comte sendiri merupakan salah satu mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak. Hal tersebut menunjukan bahwa Comte memiliki prinsip dalam menjalani kehidupannya yang pada akhirnya Comte menjadi seorang profesional dan meninggalkan dunia akademisnya memberikan les ataupun bimbingan singkat pada lembaga pendidikan kecil maupun yang bentuknya privat.
Hal-hal yang sebenarnya menarik perhatiannyapun dasarnya bukanlah yang berbau matematika tetapi masalah-masalah social dan kemanusiaan. Dan, pada saat minatnya mulai berkembang tawaran kerjasama dari Saint Simon yang ingin menjadikan Comte sekretaris Simon sekaligus pembimbing karya awal Comte, Comte tidak menolaknya.
Tiada gading yang tak retak, istilah yang menyempal dalam hubungan yang beliau-beliau jalin. Akhirnya ada perpecahan juga antara kedua intelektual ini perihal karya awal Comte karena arogansi intelektual dari keduanya. Sejak saat itulah Comte mulai menjalani kehidupan intelektualnya sendiri, menjadi seorang profesional lagi dan Comte dalam hal yang satu ini menurut pandangan Coser menjadi seorang intelektual yang termarjinalkan dikalangan intelektual Perancis pada zamannya.

2.      Pengertian Positivisme
Positivisme berasal dari kata “positif”. “Kata positif” disini sama artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Kemudian filsafat pun harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu pulalah, positivism menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat” benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya”, bagi positivisme, tidaklah mempunyai arti apa-apa. Ilmu pengetahuan, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. Tugas khusus filsafat adalah mengoodinasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang beragam coraknya. Tentu saja, maksud positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Positivisme pun mengutamakan pengalaman. Hanya saja berbeda dengan empirisme Inggris yang menerima pengalaman batiniah atau subjetif sebagai sumber pengetahuan. Positivism tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah tersebut. Ia hanyalah mengandalkan fakta-fakta belaka. (Juhaya S. Pradja, 2000 : 89)

3.       Perkembangan Masyarakat
Kehidupan terus bergulir Comte mulai melalui kehidupannya dengan menjadi dosen penguji, pembimbing dan mengajar mahasiswa secara privat. Walaupun begitu, penghasilannya tetap tidak mecukupi kebutuhannya dan mengenai karya awal yang dikerjakannya mandek. Mengalami fluktuasi dalam penyelesainnya dikarenakan intensitas Comte dalam pengerjaannya berkurang drastis. Comte dalam kegelisahannya yang baru mencapai titik rawan makin merasa tertekan dan hal tersebut menjadikan psikologisnya terganggu, dengan sifat dasarnya adalah , seorang pemberontak akibatnya Comte mengalami gejala paranoid yang hebat. Keadaan itu menambah mengembangnya sikap pemberang yang telah ada, tidak jarang pula perdebatan yang dimulai Comte mengenai apapun diakhiri dengan perkelahian. Kegilaan atau kerajingan yang diderita Comte membuat Comte menjadi nekat dan sempat menceburkan dirinya ke sungai. Datanglah penyelamat kehidupan Comte yang bernama Caroline Massin, seorang pekerja seks yang sempat dinikahi oleh Comte ditahun 1825. Caroline dengan tanpa pamrih merawat Comte seperti bayi, bukan hanya terbebani secara material saja  tetapi juga beban emosional dalam merawat Comte karena tidak ada perubahan perlakuan dari Comte untuk Caroline dan hal tersebut mengakibatkan Caroline memutuskan pergi meninggalkan Comte. Comte kembali dalam kegilaannya lagi dan sengsara.
Comte menganggap pernikahannya dengan Caroline merupakan kesalahan terbesar, berlanjutnya kehidupan Comte yang mulai memiliki kestabilan emosi ditahun 1830 tulisannya mengenai “Filsafat Positiv” (Cours de Philosophie Positiv) terbit sebagai jilid pertama, terbitan jilid yang lainnya bertebaran hingga tahun 1842.
Mulailah dapat disaksikan sekarang bintang keberuntungan Comte  sebagai salah satu manusia yang tercatat dalam narasi besar prosa kehidupan  yang penuh misteri, pemikiran brilian Comte mulai terajut menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam karya-karya filsafat yang tumbuh lebih dulu. Comte dengan kesadaran penuh bahwa akal budi manusia terbatas, mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar  pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu: 1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan, 2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan 3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum  itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
Pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya bukan hanya berguna, tetapi merupakan suatu keharusan untuk diterima karena ilmu pengetahuan kekinian selalu bertumpu pada ilmu pengetahuan sebelumnya dalam sistem klasifikasinya.
Asumsi-asumsi ilmu pengetahuan positiv itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh dipengaruhi oleh emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang sedang diteliti. Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulang kali. Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau kejadian alam dari mutualisma simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena yang lain.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tigastadia”. Hukum tiga tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
1)       Tahap teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif  yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat membenturkan godamnyalah yang membuat guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi kesuburan yang menetap ditiap sawah.
2)       Tahap metafisika atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir !”, “penyakit AIDS adalah penyakit kutukan!”, dan lain sebagainya, merupakan contoh dari metafisika yang masih ditemukan setiap hari.
3)       Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya, adalah bilamana kita memperhatikan kuburan manusia yang sudah mati pada malam hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan ini karena adanya perpaduan antara hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari kandungan tanah dan serangga yang melakukan aktivitas kimiawi menguraikan sulfur pada tulang belulang manusia, akhirnya menghasilkan panas lalu mengeluarkan asap.

4.       Pluralitas Ekstrim
Follow up atas radikalisasi Comte, antara progresivitas untuk menciptakan perubahan sosial dengan penjagaan atas keteraturan sosial menjadi bahan kontemplasi dan observasinya. Comte sangat berjuang keras dengan  idealismenya (positivisme) agar tercapai  dan dapat mengatasi keguncangan akibat kecemburuannya, harapan dan kenyataan yang mungkin tidak akan sama nantinya yang akan terjadi pada manusia.
Pada saat tertentu Comte ulas balik kembali untuk mencari sumbangan sosial para intelektual sebelum Comte, dan terdapati oleh Comte tentang konsensus intelektual. Konsensus intelektual selalu menjadi dasar bagi tumbuhnya solidaritas dalam masyarakat. Dan nilai tersebut, diadopsi dari khasnah masyarakat  teologis oleh Comte. Comte melihat agama memiliki ikatan emosional yang tinggi bersandarkan sistem kepercayaan yang satu dan itu mendorong kebersamaan umat manusia menjalankan ritual keagamaan dengan penuh disiplin, menuju hal yang bernuansa transendental dengan mengutamakan solidaritas sosial dan konsensus.
Menurut Comte hal ini tepat bila akan digunakan sebagai satu formulasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, perubahan secara cepat atau revolusi sosial. Namun Comte, tidaklah dapat mengandalkan agama yang konvensional apabila ingin mengadakan sinkronisasi dan konsisten dalam  pengembangan ilmu pengetahuannya, positivisme.
Rutinitas Comte yang sangat ajek ternyata tidak mengaburkan Comte dari sense of romance-nya, Comte bertemu seorang perempuan yang bernama Clotilde de Vaux di tahun 1844. Walaupun, Comte sangat mencintainya hingga akhir hayat Clotilde tidak pernah menerima cinta Comte karena sudah memiliki suami, walau suaminya jauh dari Clotilde. Comte hanya sempat  menjalankan hubungan yang platonis, 1845 Comte menyampaikan hasratnya dan hal tersebut tahun yang fantantis bagi Comte. Clotilde de Vaux meninggal pada tahun 1846 karena penyakit yang menyebabkan tipis harapan sembuhnya dan Clotilde masih terpisah dengan suaminya.
Pada saat itulah mungkin Comte mulai memikirkan perihal keluarga, keluarga dianggap kesatuan organis yang dapat menyusun pemikiran-pemikiran sedari awal bagi manusia-manusia baru (pasangan suami-istri). Internalisasi nilai-nilai baru, tentunya yang positif. Comte yang percaya bahwa perubahan tidaklah akan begitu tiba-tiba datangnya dalam masyarakat. Comtepun percaya akan humanitas keseluruhan dapat tercipta dengan kesatuan lingkungan social yang terkecil, yaitu keluarga. Keluarga-keluarga merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi Comte. Keluarga yang mengenalkan pada lingkungan social, eskalasi keakraban yang meninggi akan menyatukan dan mempererat keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Hal tersebut membentuk pengalaman yang didominasi oleh altruisma, terarah atas ketaatan, kerjasama dan keinginan untuk mempertahankan yang telah dicapai dalam perspektif keluarga bentuk mikrokosmik. Dalam diri manusia memiliki kecendrungan  terhadap dua hal, yaitu egoisme dan altruisma (sifat  peribadi yang didasarkan pada kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap, sedang yang kedua makin bertambah kuat. Sehingga manusia makin memiliki sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang. Tidak dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap keluarga lainnya.
Rupa-rupanya Comte menganggap keluargalah yang menjadi sumber keteraturan social, dimana nilai-nilai cultural pada keluarga (kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan selalu mendapat tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling menguntungkan, menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan.
Seiring dengan kontemplasi dan observasi Comte dalam mencari jalan tengah serta persentuhannya dengan romantisme platonis, perang terus menerus dan individualitas mengembang bagai jamur di musim hujan pada zaman post-revolusi Perancis semakin menentukan arah pemikiran Comte yang empirik itu.
Pendobrakan  besar-besaran dilakukan Comte terhadap realitas sosial yang terus mencoba menghegemoni umat manusia pada zamannya melalui institusi gereja, hal yang kudus dan ketabuan yang dibuat oleh manusia (khususnya, pastur/pendeta/pemuka agama) mendapatkan kritik keras karena menjajakan doktrin, dogma dan  melakukan pembodohan yang berakibat, yang kaya tetap kaya lalu yang miskin akan tetap miskin.
Dalam pada itu Comte yang telah meyakini ilmu pengetahuan yang ditebarkannya mencoba mensinkronisasikan altruisma unsur kebudayaan teologis, dimana konsensus sosial dan disiplin merupakan landasannya atas aktivitas sehari-hari umat manusia. Begitupun kesatuan organis terkecil di masyarakat, amat mempengaruhi Comte sebagai institusi yang dapat meradiasi pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam pembentukan sosial orde pada masyarakat luas. Comte mulai merilis suatu pola dan bentuk penyebaran dari satu sosial orde yang sangat mempengaruhi umat manusia, Comte menciptakan agama baru yang sesuai dengan idealismenya.
Idealisasinya berbentuk agama yang dapat dikatakan sekuler dan lengkap bersama ritus, hari rayanya, pemuka agama serta lambangnya, dilengkapi oleh Comte. Agama gaya baru ini dinamakan agama humanitas, dimaksudkan untuk memberikan cinta yang lebih terhadap manusia-manusia yang menghasilkan karya dalam sejarah perkembangan manusia. Menurut Comte mencintai kemanusian, inilah yang menyebabkan lahirnya keseimbangan dan keintegrasian baik dalam pribadi individu maupun dalam masyarakat. Kemanusianlah yang kudus dan sakral, bukanlah Allah karena banyak penjelasan dalam agama konvensional yang bersifat abstrak dan spekulatif, hanya memberi impian. Institusi agamapun hanya menjadi alat propaganda kepentingan politik dari kekuatan politik tertentu.
Comte menciptakan agama tersebut, terlihat seakan mengalami romantisisme terhadap pengalamannya yang lalu bersama Clotilde de Vaux dan menghasilkan hubungan yang berbuih saja dan realitas sosial yang juga turut membentuknya. Dari sini pada saat Comte, membentuk ceremonial keagamaannya dengan mengadakan penyembahan terhadap diri perempuan, Comte dikatakan oleh para intelektual lainnya kehilangan konsistensi terhadap ilmu pengetahuan yang dikembangkannya karena pemikirannya sudah terbungkus dengan perasaan. Comte dikatakan tidak ilmiah.
Namun permasalahan pemujaan Comte, terhadap perempuan diadopsi dari rentang sejarah ceritra bunda Maria, bukan karena adanya penolakan perasaan cintanya dari Clotilde de Vaux. Dalam hal ini Comte dapat juga dikatakan mengadakan sublimasi terhadap obsesinya, yaitu kebebasan berpikirnya atas idealismenya agar dapat menyiasati secara strategis. Menciptakan masyarakat positivis di masa depan, dalam kontekstual hubungan seks antara pria dan perempuan tidak perlu ada lagi dan “kelahiran manusia-manusia baru akan keluar dengan sendirinya dari kaum perempuan”. Di era sekarang hal tersebut merupakan pemandangan umum, perkembangan reproduksi melalui tekhnologi kedokteran telah berhasil mengaktualisasikan ide tersebut.
Comte bersama ahli-ahli bidang lainnya yang sepakat dengan pemikirannya menjadi perangkat institusi keagamaan yang dibuatnya dan mulai mensosialisasikan kepada kalangan elit-elit politik, Comte mengarang buku kembali dan diberikan judul Positivist Catechism dan Appeal to Conservatives.
Comte dengan konsistensinya mensosialisasikan agama humanitas-nya dan hukum tiga tahap yang memaparkan perkembangan kebudayaan manusia hingga akhir hayatnya, Comte meninggal di Paris pada tanggal 5 September 1857.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Auguste Comte adalah, manusia yang berjalan di tengah-tengah antara ideologi yang berkembang ( progressiv vs konservatif ), berada pada ruang abu-abu ( keilmiahan ilmu pengetahuan ). Comte memberikan sumbangsih cukup besar untuk manusia walaupun, ilmu pengetahuan yang dibangun merupakan ide generatif dan ide produktifnya. Comte turut mengembangkan kebudayaan dan menuliskan : “Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai manusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”.




DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Abdul. 2008. Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia

Achmadi, Asmoro. 2007. Pengantar Filsafat. Ed 1-7. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Syadali, Ahmad, MA. 2004. Filsafat Umum. Cet 2. Bandung: Pustaka Setia

Sunday, 9 October 2016

Honda Iming-imingi Komunitas buat Beli CBR250RR??

Baca di kompas.com honda lagi gerilya terang-terangan :)  Mengiming-ngimingi komunitas buat beli cbr 250 rr :D

SPA BAYI

SPA BAYI
A. Pengertian pijat bayi
Pijat bayi adalah suatu sentuhan yang diberikan pada jaringan lunak yang memberi banyak manfaat bagi anak maupun orang tua. Pijat bayi sebenarnya merupakan suatu bentuk terapi sentuhan (touch therapy) yang sangat bermanfaat baik bagi bayi maupun orang tuanya.Sentuhan atau pijatan pada bayi dapat merangsang produksi ASI, meningkatkan nafsu makan dan berat badannya. Tindakan ini juga akan mempererat tali kasih orang tua dan anak, serta menjadi dasar positif bagi pertumbuhan emosi dan fisik bayi. Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi, ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat si bayi yang Anda cintai.
B. Manfaat dari pijat bayi
1) Sirkulasi darah jadi lancar.
2) Terapi sentuhan (pijat) bisa memberikan efek positif secara fisik, antara lain kenaikan berat badan bayi dan peningkatan produksi air susu ibu (ASI).
3) Mengoptimalkan proses pertumbuhan.
4) Meningkatkan daya tahan tubuh.
5) Membantu otak melepaskan hormone yang membuat bayi menjadi relaks dan nyaman.
6) Mengurangi kerewelan bayi, biasanya bayi yang sering dipijat akan mudah tidur lelap.
7) Mempererat ikatan batin dan emosionalantara orang tua dan bayi.
8) Untuk kasus tertentu, pijat bayi juga dapat memberikan manfaat tambahan. Bagi pasangan yang masih remaja (teenage parents), pijat bayi mendongkrak rasa percaya diri dan rasa penerimaan atas keadaannya menjadi orang tua, serta meningkatkan harga diri sebagai orang tua.
9) Terhadap perkembangan emosi anak, sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi, yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik, dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua.
C. Syarat-syarat di perbolehkannya pijat bayi
1) Bayi dalam keadaan sehat, tidak sakit.
2) Bayi tidak dalam keadaan lapar.
3) Bayi sudah selesai minum susu sekitar satu jam yang lalu.
4) Jangan sekali-kali memaksa bayi bila terlihat ia sedang tidak ingin dipijat.
5) Buka seluruh baju bayi.
6) Gunakan baby oil untuk memudahkan pijat bayi.
Penting diperhatikan :
a. Pastikan kedua tangan Anda bersih.
b. Sebelum memulai, lepas semua perhiasan pada kedua belah tangan Anda,seperti cicin dan gelang.
c. Kuku jari tangan Anda dalam keadaan terpotong pendek dan bersih, agar kulit bayi tidak tergores.
d. Lakukan dengan hati-hati dan lembut.
e. Lakukan di dalam ruangan yang hangat dan tidak pengap (aliran udara di dalam ruangan lancar).
f. Baringkan bayi di atas tempat yang memiliki permukaan rata dan empuk, misalnya kasur atau karet busa yang tebal.
g. Putarlah musik berirama lembut dan menyenangkan.
h. Tips melakukan pijat pada bayi:
a) Tidak boleh melakukan pijat bayi saat bayi sedang makan atau setelah menyusui, usahakan minimal satu jam sebelum atau setelah melakukan hal tersebut.
b) Sebaiknya dilakukan sebelum bayi mandi, lalu dilanjutkan dengan mandi sehingga bayi akan merasa lebih segar.
c) Usahakan anak dalam keadaan senyaman mungkin dan tidak boleh dalam keadaan menangis.
d) Tingkat penekanan yang diberikan sama dengan saat orang dewasa menyentuh kelopak matanya, jadi seperti diusap saja.
e) Memijat bayi dari atas atau kepala ke bawah.
D. Waktu yang tepat dilakukan pijat bayi
Pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. Jadi, dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan.Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. Sejak usia enam bulan, pijat duahari sekali sudah memadai.
E. Daerah-daerah yang dapat dilakukan pijat bayi Daerah-daerah yang dapat dilakukan pijat bayi yaitu pada daerah kaki, telapak kaki, dada, perut, tangan, lengan, kepala, muka, punggung, dan bokong
F. Teknik-teknik dalam melakukan pijat bayi
a. Cara Pemijatan untuk Berbagai Kelompok Umur
1. Umur 0-1 bulan. Disarankan diberikan gerakan yang lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebaiknya tidak dilakukan pemijatan di daerah perut sebelum tali pusat lepas uput).
2. Umur 1-3 bulan. Disarankan diberikan gerakan halus disertai tekanan ringan.
3. Umur 3 bulan-1 tahun. Disarankan agar seluruh gerakan dilakukan dengan tekanan dan waktu yang makin meningkat.
4. Total waktu pemijatan disarankan 15 menit. Urutan pemijatan bayi dianjurkan dimulai dari bagian tungkai, kaki, lengan, tangan, perut, dada, punggung, dan diakhiri bagian muka. Gerakan memijat menuju ke arah jantunga)Gerakan usapan misalnya, dapat menenangkan anak, sehingga bermanfaatbagi anak yang berpembawaan gugup
b) Remasan berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. Dengan kata lain, remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat, sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah.Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras; mirip gerakan membuat adonan roti.
c) Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan, sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan.
d)Teknik lingkar. Mula-mula dilakukan usapan, kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. Dengan latihan, lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. Teknik urut lingkar, memberikan stimulasi pada permukaan jaringan, bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. Hasilnya, aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar.
b. Teknik lain mengurut wajah bayi:
1) Gerakan membedaki hidung. Hidung bayi "dicolek" bedak dengan telunjuk.
2) Gerakan menyeterika dahi. Caranya, pelipis diusap dengan telapak tangan.
3) Gerakan cincin mata. Membuat lingkaran di sekeliling mata dengan ujung jari.
4) Gerakan lingkar di pipi dengan cara menggambar lingkaran di pipi, mula-mula besar kemudian makin kecil.
5) Gerakan mencubit-cubit kulit pipi.
6) Menempelkan telapak tangan di pipi lalu digoyang-goyangkan.
7) Gerakan bersiul, yaitu dengan mengusahakan agar mulut bayi dimonyongkan.Selain untuk mengurut wajah, teknik urut serupa juga bisa untuk pemijatan bagian kaki, tungkai dan lengan, perut, dada dan punggung.Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemijatan bayi tak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada cara dan rambu-rambu yang mesti diperhatikan. Berikut adalah cara atau pedoman pemijatan pada bayi.a.Pijatan di kepala
1. Pegang wajah bayi anda dengan lembut diantara kedua tangan anda sambil berbicara dengan suara yang menenangkan dan lembut. Tatap mata bayi anda ketika berbicara dan dengan menggunakan kedua tangan berikan tekanan kebawah pada kedua sisi wajah. Ini akan memberi rasa dekat pada anda berdua
2. Putar tangan anda kesamping dan selipkan dibawah kepala bayi. Topang berat kepala pada bagian bawah telapak tangan sambil memijat kulit kepala dengan jari-jari anda yang bergerak membentuk lingkara-lingkaran kecil
3. Gunakan ibu jari untuk menekan telinga.Tekan telinga dengan ibu jaridan jari telunjuk sambil memberikan pijatan mulai dari atas telinga sampai ke cuping telinga
4. Gunakan jari untuk menekan leher kea rah bahu. Awali dengan jari kelingking dangunakan bagian ujung dari keempat jari anda secara berurutan
5. Putar tangan kebawah untuk mengistirahatkannya sejenak pada bahu depan bayi anda.
b. Pijatan di wajah untuk melemaskan ototwajah.Tekan jari-jari pada kening bayi, pelipis, dan pipi. Gunakan kedua ibu jari untuk memijit daerah di atas alis. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jaridari hidung ke arah pipi bayi. Gunakan kedua ibu jari untuk memijit sekitar mulut, tarik hingga bayi tersenyum. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tengah ke samping seolah membuat bayi tersenyum. Pijat secara lembut daerah di belakang telinga ke arah dagu.
1.Dahi : meyetrika dahiLetakkan kedua jari tangan Anda pada pertengahan dahi lalu tekan jari-jari Anda dengan lembut mulai dari tengah dahi bayi ke arah samping kanan dan kiri seolah menyeterika dahi.
2.Alis : menyetrika alis Letakkan kedua ibu jari Anda di antara kedua alis mata lalu usaplah bagian atas mata/alis mulai dari tengah ke   samping seperti menyeterika alis.
3. Hidung : senyum pertamaLetakkan kedua ibu jari Anda di antara kedua alis. Tekankanlah ibu jari Anda dari pergelangan kedua alis turun melalui tepi hidung ke arah pipi kemudian gerakkan kesamping dan ke atas seolah membuat bayi tersenyum.
4. Rahang atas : senyum kedua Letakkan kedua ibu jari Anda pada pergelangan rahang  atas atau di atas mulut di bawah sekat hidung. Lalu tarik kesamping seolah membuat bayi tersenyum.
5. Menekan pipiGerakkan kedua ibu jari Anda dari tengah ke samping  dan ke atas ke daerah pipi
6. Dagu/rahang bawah : senyum ketiga Letakkan kedua ibu jari Anda di tengah dagu.Tekankan dua ibu jari pada dagu, lalu gerakkan dari tengah ke samping kemudian ke atas seolah membuat bayi tersenyum.
7. Belakang telinga
Dengan tekanan lembut gerakkan jari-jari kedua tangan Anda dari belakang telinga kanan dan kiri ke tengah dagu.
c. Pijatan di dada untuk memperkuat paru-paru dan jantung.Letakkan kedua tangan di tengah dada bayi dan gerakkan ke atas, kemudian ke sisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati. Lalu, dari tengah dada bayi, pijat menyilang dengan telapak tangan ke arah bahu seperti membentuk kupu-kupu.
d. Pijatan pada perut untuk meningkatkan sistem pencernaan dan mengurangi sembelit.Untuk pemijatan di bagian perut hindari pemijatan pada tulang rusuk atau ujung tulang rusuk. Lakukan gerakan memijat di atas perut bayi seperti mengayuh sepeda dari atas ke arah bawah perut. Kemudian, angkat kedua kaki bayi dan tekan lututnyaperlahan-lahan ke arah perut. Buatlah bulan separuh terbalik dengan tangan kanan, mulai dari kiri ke kanan searah jarum jam. Saat tangan kanan di atas, tangan kiri di bawah dan berputar mengikuti arah jarum jam membentuk lingkaran penuh seperti matahari.Letakkan ujung-ujung jari pada perut bayi di bagian kanan bawah dan buatlah gerakan dengan tekanan sesuai arah jam dari kanan bawah ke kiri bawah guna memindahkan  gelembung-gelembung udaraDengan kedua telapak tangan usaplah dari tengah dada ke samping luarsecara lembut dan berulang-ulange.Pijatan tangan dan kaki untuk menghilangkan ketegangan dan memperkuat tulang.Pegang lengan bayi dengan kedua telapaktangan seperti memegang pemukul softball. Dengan gerakan seperti memerah, pijat tangan bayi dari bahu ke pergelangan. Lakukan gerakan sebaliknya,dari pergelangan ke arah pangkal lengan. Tarik lembut jari-jari bayi dengan gerakan memutar. Dengan kedua ibu jari secara bergantian, pijat seluruh permukaan telapak tangan dan punggung tangan bayi. Gunakan kedua telapak tangan untuk membuat gerakan seperti menggulung.
1. Lengan
Apabila memungkinkan gunakan kedua tangan anda dan tekan mulai dari bahu sampai ujung jari bayi
b. Berpindahlah ke lengan kiri.
Gunakan setiap tangan secara bergantian diawali dari bagian bahu untuk memberikan remasan dan geser tangan kebawah sampai ke jari-jari bayi. Bukalah jari-jari bayi anda
c. Apabila bayi anda memberikan reaksi yang positif, ulangi gerakan ini.namun apabila tidak maka berikan gerakan effleurage(tekanan) pada seluruh lengan . pesan dalam pepatah adalah ”apabila ragu-ragu, maka lakukan effleurage”. Penggunaan gerakan menekan dalam pemijatan selalu sesuai.
2. Telapak tanganDengan kedua ibu jari, usaplah telapak tangan seolah membuat lingkaran kecil dari pergelangan tangan ke arah jari-jemari. Sedangkan keempat jari lainnya mengusap punggung  tangan
3. Peregangan  Jari Regangkan jari bayi satu per satu menuju ujung jari dengan gerakan memutar. Akhiri gerakan ini dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari
4. Gerakan tarikan lengan Peganglah lengan bayi bagian atas/bahu dengan kedua telapak tangan dan tangnan lain dipergelangan tangan. Tarik lengan bayi dari bahu kepergelangan secara bergantian.
5. Gerakan menggulung Bentuklah gerakan menggulung dari pangkal lengan menuju pergelangan tangan/jari
6. Gerakan akhirSetelah semua gerakan dilakukan pada tangan kanan dan kemudian tangan kiri bayi, lalu lakukan gerakan berikut:Rapatkan kedua lengan bayi pada badannya, usap dengan lembut kedua lengan bayi dengan kedua tangan Anda secara bersamaan mulai dari pundak sampai ke pergelangan tangan.
f. Pijatan punggung untuk memperkuat otot yang menyangga tulang belakang.
Pijat dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan di sepanjang punggung bayi, luncurkan salah satu telapak tangan dari leher sampai ke pantat bayi dengan sedikit tekanan. Buat gerakan melingkar dengan jari-jari, terutama pada otot di sebelah tulang belakang. Buat pijatan memanjang dengan telapak tangan dari leher ke kaki untuk mengakhiri pijatan.
1. Gerakan maju mundur : kuda goyangTengkurapkan bayi melintang di depan Anda. Gosoklah dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan di sepanjang punggung bayi, dari bawah leher sampai ke pantat bayi
2. Gerakan menyetrikaLakukan usapan dengan telapak tangan kanan Anda, menyerupai gerakan menyetrika, dimulai dari pundak ke bawahsampai ke pantat
3. Gerakan melingkarBuatlah gerakan-gerakan melingkar kecil-kecil dengan jari-jari kedua tangan Anda, mulai dari batas leher atas turun ke bawah sampai batas leher bawah, kemudian ke samping menyusuri bahu kanan dan kiri kemudian teruskan ke punggung sampai ke pantat.
4. Gerakan menggarukTekankan dengan lembut kelima jari-jari tangan kanan Anda pada punggung bayi, kemudian buat gerakan seperti menggaruk ke bawah memanjang sampai ke pantat bayi.
g.Pijatan pada bokong
1.Pijat disekitar bokong.
Berhati-hatilah untuk menghindari segala bentuk gosokan . lakukan gerakan seperti mengaduk adonan pada otot-otot utana dengan cara meremas, meregangkan dan melepaskan. Untuk melakukan ini hanya perlu menggunakan jari-jari tangan anda .otot-otot ini adalah otot terdalam pada tubuh dan digunakan pada sebagian besar gerakan. Bahkan pada saat kita duduk. Hindari bagian anus dari bayi anda
2. Dengan menggunakan 2 jari
pertama dan ibu jari ,putar daging paha keatas kearah sacrum (ujung dari tulang punggung ). Pastikan putaran ini menyabar dari bagian dasr bokong ke samping tulang panggultekan dengan lembut ke bwah mulai dari kepala ke jari kaki untuk melengkapi bagian dari pijatan ini. Tekanan yang ringan akan merangsang ujung syaraf.
h. Pemijatan yang tidak boleh dilakukan :
1) Memijat bayi tidak lama setelah ia makan atau disusui
2) Membangunkan bayi untuk dipijat
3) Memijat bayi dalam keadaan sakit
4) Memijat bayi dengan paksa
5) Memaksakan posisi saat di pijat
6) Pelajari dulu cara memijat bayi yang baik dan benar untuk mendapatkan hasil yang maksimal
DAFTAR PUSTAKA
Ayah bunda no.23, tanggal 7-20 September 2000. memijat bayi sentuhan kasih.
Ayah bunda no.3, tanggal 13-26 Pebruari 2000. cara tepat pijat bayi.
Roesti, Utami. 2004. Bayi segat berkat Asi Ekskisif. PT. Elex Media Komputindo, Keluarga Gramedia, Jakarta

Proposal Skripsi Bagian 4

Lampiran 1

PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ……………………………..
Alamat : ……………………………..
Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul “Hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri”.
Saya tidak akan menuntut terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam penelitian ini. Demikian surat pernyataan persetujuan ini saya sampaikan dengan sadar dan tanpa ada paksaan siapapun.

Responden
Peneliti


( ……………………… )
(Ahmad Santoso)



Lampiran 2
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI, KECAMATAN WONOGIRI

Identitas Siswa
Nama  : …………………………………
Kelas  : …………………………………
Jenis Kelamin : …………………………………
Petunjuk Pengisian
Bacalah dengan teliti setiap pertanyaan sebelum memilih jawabannya.
Semua pertanyaan harus diberi jawaban.
Berilah tanda (x) pada kolom jawaban, sesuai dengan pilihan.
Keterangan :
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
KS = Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju




Kuesioner Intensitas Menonton Televisi

No.
Pernyataan
SS
S
R
TS
STS

1.
Saya tidak terlalu sering menonton televisi.




2.
Saya lebih senang menonton televisi ketika libur dan tidak ada tugas.




3.
Saya bebas menonton televisi kapan saja.




4.
Setiap hari saya menonton televisi.




5.
Ketika menonton televisi, saya dapat menghabiskan waktu lebih dari 5 jam.




6.
Orang tua saya memberitahu acara yang layak dan tidak layak ditonton oleh saya.




7.
Orang tua saya melarang saya menonton televisi terlalu lama.




8.
Ketika menonton televisi, saya didampingi orang tua/wali.




9.
Kalau ada ulangan, saya sama sekali tidak boleh menonton televisi.




10.
Saya menonton televisi sejak pulang sekolah hingga malam hari.




11.
Ketika malam saya menonton televisi lebih dari pukul 21.00 WIB.




12.
Saya senang menonton acara berita, edukasi dan acara yang menambah wawasan.




13.
Saya senang sekali menonton acara komedi dan sinetron.




14.
Terlalu sering menonton televisi membuat nilai saya menurun.




15.
Saya melakukan kegiatan belajar atau mengerjakan PR tidak sambil menonton televisi.




16.
Saya lebih senang belajar daripada menonton televisi.




17.
Saya menunda kegiatan belajar saya, untuk menikmati acara televisi yang sangat saya sukai.




18.
Menonton televisi adalah hobi saya.




19.
Saya selalu berusaha untuk menonton acara televisi, yang sering dibicarakan oleh teman- teman saya.




20.
Ruangan untuk menonton televisi dirumah saya membuat saya merasa nyaman.





      




Lampiran 3

DAFTAR NAMA SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI
NO
NAMA
KELAS
JENIS KELAMIN

1
Ardi Firmasnyah
Lima
Laki-Laki

2
Erlin Mei Hastantri
Lima
Perempuan

3
Rian Ardiansyah
Lima
Laki-Laki

4
Usnul Khotimah
Lima
Perempuan

5
Alfian Gilang
Lima
Laki-Laki

6
Amelia Putri
Lima
Perempuan

7
Anna Fasmaun
Lima
Perempuan

8
Aprilia Rahadatul
Lima
Perempuan

9
Bagas Tri
Lima
Laki-Laki

10
Bima Aditya
Lima
Laki-Laki

11
Cicilia Giska
Lima
Perempuan

12
Emi Purwanti
Lima
Perempuan

13
M.Arya
Lima
Laki-Laki

14
Mutia Nurul
Lima
Perempuan

15
Nur Aini
Lima
Perempuan

16
Pingkan Zahro
Lima
Perempuan

17
Sinta Lukmana
Lima
Perempuan

18
Wahyu Fursan
Lima
Perempuan

19
Diesta Wira
Lima
Perempuan

20
Apriliya Putri
Lima
Perempuan

21
Putri Ayu
Lima
Perempuan

22
Wiji Rahayu
Lima
Perempuan

23
M.Ikhsan
Lima
Laki-Laki

Total Keseluruhan                                                                              : 23

Total Laki-Laki                                                                                   : 7

Total Perempuan                                                                                 : 16



Lampiran 4

DAFTAR RIWAYAT PENDIDIKAN PENULIS

Berikut ini adalah data lengkap dari peneliti proposal dengan judul “Hubungan Intensitas Menonton Televisi dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Nama 
TTL
NIM :
Riwayat Pendidikan Peneliti :
SD Negeri 1 Manjung, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2006
SMP Negeri 2 Wonogiri, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2009
SMK Negeri 2 Wonogiri, Kecamatan Wonogiri lulus tahun 2012
Mahasiswa STAIMUS Semester terakhir
Demikian riwayat pendidikan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagai mestinya
Wonogiri,   April 2016

Proposal Skripsi Bagian 3

digolongkan menjadi dua bagian yaitu :
Faktor - faktor fisiologis
Aspek Fisiologis, seperti keadaan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga menurunkan prestasi belajarnya, kondisi organ-organ indera yang terganggu juga menjadi penyebab siswa mengalami gangguan hasil belajar.
Faktor - faktor psikologis.
Aspek Psikologis, banyak faktor dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas prestasi pembelajaran siswa, diantara faktor ruhaniah yang mempengaruhi prestasi belajar anak antara lain tingkat kecerdasan/ intelegensi siswa, sikap, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
Sedangkan menurut Hamalik (2001), membagi secara lebih rinci dan lebih operasional ke dalam beberapa komponen diantaranya yaitu :
Faktor yang berasal dari diri sendiri, meliputi :
Kondisi kesehatan sering terganggu
Kurang niat terhadap mata pelajaran
Tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam belajar
Kecakapan dalam mengikuti pelajaran
Kebiasaan belajar dan kurangnya kemampuan bahasa.
Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah, meliputi :
Kurangnya alat pelajaran
Kurangnya buku bacaan
Cara yang digunakan pengajar dalam memberikan materi pelajaran
Bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan kemampuan
Penyelenggaraan pelajaran yang terlalu padat.

Faktor - faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga, meliputi :
Masalah bertamu, menerima tamu dan kurang perhatian orang tua
Masalah kemampuan ekonomi
Masalah putus sekolah (broken home)
Rindu terhadap kampung
Faktor-faktor bersumber dari lingkungan masyarakat, meliputi :
Masalah gangguan dari jenis kelamin
Bekerja sambil belajar
Aktif organisasi/tidak dapat mengatur waktu senggang
Tidak mempunyai teman belajar/teman memecahkan masalah.
HIPOTESIS
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha = Ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Ho = Tidak ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri


METODE PENELITIAN
Metode Penelitian.
Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan model pendekatan cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas atau resiko dan variabel terikat atau variabel akibat dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).
Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Wonogiri yang berjumlah 23 anak.
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010). Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini diambil dari kelompok Non Probability Sampling yaitu sampling jenuh (total sampling).
Menurut Sugiyono (2010) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, dimana seluruh anggota populasi yang berjumlah 23 siswa digunakan sebagai sampel dikarenakan jumlah anggota populasi kurang dari 30 orang.
Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni 2016 di kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat Dusun Sumbersari, Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kode Pos 57651.
Variabel Penelitian.
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006). Variabel dalam penelitian ini adalah :
Variabel Bebas (Independen)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas menonton televisi.
Variabel terikat (Dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa.
Teknik Pengumpulan Data
Sumber Data
Data adalah hasil pencatatan penelitian, baik yang berupa angka ataupun fakta. Data juga berarti bahan keterangan tentang suatu obyek penelitian yang diperoleh di lokasi penelitian.Data yang ada dalam penelitian ini, dilihat dari sumbernya ada dua macam, yaitu :
Data Primer
Data primer diperoleh seorang peneliti langsung dari obyeknya. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung dengan siswa terkait mengenai intensitas menonton TV dan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa yang diukur dengan kuesioner.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari hasil dokumentasi dari berbagai sumber, meliputi :
Referensi buku yang berisi teori yang relevan terhadap obyek yang diteliti.
Artikel maupun jurnal dari suatu media tertentu yang sesuai dengan obyek yang diteliti.
Profil sekolah dan data siswa dari bagian tata usaha
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara dilakukan dengan tanya jawab terhadap siswa di kelas V SD Negeri 3 Purwosari yang terkait dengan objek penelitian menggunakan kuesioner terstruktur.

Analisis Data
Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Analisis dilakukan dengan distribusi frekuensi dari tiap – tiap variabel independen (intensitas menonton televisi) dan variabel dependen (prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa).
Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (intensitas menonton televisi) dengan variabel dependen (prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa) di kelas V SD Negeri 3 Purwosari yang dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank dan menggunakan komputerisasi program uji statistik kesehatan dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Rumus Spearman Rank (Sugiyono, 2010) sebagai berikut :


Keterangan :
ρ = koefisien korelasi Spearman Rank
bi = beda antara rangking data kelompok 1 dan kelompok 2
n = jumlah sampel
Jika jumlah sampel 23≤ N≤ 50, maka untuk menguji signifikasi menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan: t = nilai statistik hitung
n = jumlah sampel
ρ = koefisien korelasi Spearman Rank
Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan t hitung dengan t tabel, maka kriteria pengujian adalah :
Jika t hitung ≥ t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

KERANGKA PENULISAN SKRIPSI
Bab I Pendahuluan, yang berisi mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, penegasan judul, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori berisi pengertian intensitas menonton televises dan prestasi belajar siswa beserta landasan teori yang akan mengemukakan tentang berbagai macam teori yang dikemukakan pakar - pakar pendidikan atau di bidangnya.
Bab III Laporan Hasil Penelitian berisi Gambaran Umum SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri khususnya untuk kelas V, latar belakang dan sejarah berdirinya, dan yang lebih spesifik yaitu tentang intensitas siswa menonton televisi yang berhubungam dengan prestasi belajar siswa yang menjadi garis besarnya.
Bab IV Analisis Data berisi Analisis hubungan intensitas menonton acara televisi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, didalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisis hubungan yang sudah dibahas tersebut.
Bab V Penutup, dalam bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan, saran - saran dan penutup

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta : Bina Aksara
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
Hofsteede, Wilhelmus M.F. 1991. Pembangunan Masyarakat: Kumpulan Karangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
http://Erabaru.net/kehidupan/54-keluarga/226-menghindari-efek-negatif-nonton-tv-pada-anak diakses pada tanggal 29 Maret 2016
http://id.wikipedia.org/wiki/televisi diakses pada tanggal 29 Maret 2016
http://Sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/ diakses pada tanggal 29 Maret 2016
Herawati, Netty. 2007. Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Film Kekerasan Di Televisi Terhadap Perubahan Perilaku Peserta Didik. Skripsi. Semarang :  tarbiyah IAIN Walisongo
L. Pasaribu dan B. Simanjuntak. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Oemar, Hamalik. 2001. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Jakarta : PT. Gramedia
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Triyani, Erlis. 2011. Pengaruh Antara Jumlah Jam Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa. Ponorogo : STKIP PGRI Ponorogo
Wijayanti, Nur Salamah. 2009. Pengaruh Media Audiovisual dan Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Pemahaman Unsur Instrinsik Cerita Rakyat pada Siswa Kelas V SD negeri 02 Slawi Kabupaten tegal Tahun pelajaran 2009/2010. Surakarta: Fakultas Keguruan daan Ilmu Pendidikan Universitas sebelas maret

Proposal Skripsi Bagian 2

Arah sikap
Sikap sebagai suatu kesiapan pada diri seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal yang bersifat positif ataupun negatif. Dalam bentuknya yang negativ akan terdapat kecendrungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, bahkan tidak menyukai objek tertentu. Sedangkan dalam bentuknya yang positif kecendrungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Contohnya apabila siswa menyenangi materi tertentu maka dengan sendirinya siswa akan mempelajari dengan baik, sedangkan apabila tidak menyukai materi tertentu maka siswa tidak akan mempelajari kesan acuh tak acuh.
Minat
Minat timbul apabila individu tertarik pada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan bahwa sesuatu yang akan digeluti memiliki makna bagi dirinya. Minat ini erat kaitannya dengan kepribadian dan selalu mengandung unsur afektif, kognitif, dan kemauan. Ini memberikan pengertian bahwa individu tertarik dan kecendrungan pada suatu objek secara terus menerus, hingga pengalaman psikisnya lainnya terabaikan. Pengertian menonton televisi adalah suatu tindakan yang menarik yang tidak lepas dari dorongan dari masing-masing individu untuk menikmati apa yang ditayangkan oleh televisi, atau dengan kata lain tindakan menonton televisi adalah kesadaran seseorang terhadap sesuatu yang berhubungan dengan dorongan yang ada dalam diri individu sehingga seseorang  memusatkan perhatiannya terhadap acara yang ditayangkan televisi dengan senang hati serta dengan perasaan puas sehingga pemirsa dapat menikmati apa yang ditayangkan oleh televisi tersebut. Menonton berarti aktivitas melihat sesuatu dengan tingkat perhatian tertentu (Danim, 2004).
Menonton televisi, sebagaimana halnya aktivitas konsumsi yang lain, adalah sebuah proses aktif, baik antar partisipan maupun antara partisipan dan televisi, yang di dalamnya audiens tidak sekedar mengambil peran sebagai pihak yang secara aktif memilih aneka material media yang tersedia bagi mereka, melainkan juga aktif memakai, menafsir, serta mengawasi (decoding) material - material yang dikonsumsinya (Morley, 1995). Artinya, menonton televisi bukanlah sekedar aktivitas menyorotkan mata kearah layar kaca, melainkan bersifat multidimensi. Jadi intensitas menonton televisi disini merupakan tindakan atau keadaan seseorang yang menikmati tayangan di televisi dalam ukuran waktu tertentu dan menggambarkan seberapa sering serta memusatkan perhatiannya terhadap acara yang ditayangkan di televisi.
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam yaitu hasil yang telah dicapai anak didik dalam menerima dan memahami serta mengamalkan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan oleh guru atau orang tua berupa Pendidikan Agama Islam di lingkungan sekolah dan keluarga serta masyarakat, sehingga anak memiliki potensi dan bakat sesuai yang dipelajarinya sebagai bekal hidup di masa mendatang, mencintai negaranya, kuat jasmani dan ruhaninya, serta beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki solidiritas tinggi terhadap lingkungan sekitar. Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung - jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri Islam.
Bentuk-bentuk prestasi dalam pendidikan agama islam.
Pembahasan bentuk-bentuk prestasi belajar dalam skripsi ini meliputi prestasi belajar bidang kognitif (cognitive domain), prestasi belajar bidng afektif (afective domain), dan prestasi belajar bidang psikomotor (psychomotor domain). Secara garis besar pembahasan prestasi belajar sebagai berikut :
Prestasi Belajar Bidang Kognitif (CognitiveDomain)
Hasil belajar Pengetahuan Hafalan (Knowledge)
Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pengetahuan yang  sifatnya  faktual, di  samping  pengetahuan mengenai  hal-hal yang perlu diingat kembali seperti batasan, peristilahan, kode-kode tertentu, pasal hukum, ayat-ayat Al Quran atau Hadits, rumus, rukun shalat, niat, dan lain - lain.Peninjauan sudut respon belajar siswa pengetahuan itu perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasai dengan baik. Dalam hal ini pakar Psikologi Pendidikan R. Ibrahim dan Nana Syaoudih, menjelaskan bahwa belajar menghafal  merupakan  kegiatan  belajar yang menekankan penguasaan pengetahuan atau fakta tanpa memberi arti terhadap pengetahuan atau fakta tersebut.
Prestasi Belajar Pemahaman (Comprehension)
Pemahaman memerlukan kemampuan dari peserta didik untuk menangkap makna atau arti sebuah konsep atau belajar yang segala sesuatunya dipelajari dari makna. Makna atau arti tergantung pada kata yang menjadi simbul dari pengalaman yang pertama. Simbul-simbul yang mempunyai arti umum berguna bagi belajar, karena memberi simbol dan ekspresi hubungan dalam pengalaman dan menjadi jalan keluarnya ide. Ada tiga macam bentuk pemahaman peserta didik yang berlaku secara umum yaitu :
Pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalam materi.
Pemahaman penafsiran, misalnya memahami grafik, simbul, menggabungkan dua konsep yang berbeda yakni membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
Pemahaman ekstrapolasi, yakni kesanggupan peserta didik untuk melihat dibalik yang tertulis/implisit, meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan.
Prestasi Belajar Penerapan
Prestasi belajar penerapan belajar analisis yaitu kesanggupan menerapkan dan mengabtraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum, dan situasi  yang baru.
Prestasi Belajar Analisis
Hasil belajar analisis yaitu kesanggupan memecahkan atau menguraikan suatu intregritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti serta mempunyai tingkatan atau hirarki.
Prestasi  Belajar Sintesis
Hasil belajar sintesis yaitu kesanggupan menyatakan unsur atau bagian menjadi satu interitas (lawan dari analisis).
Prestasi  Belajar Evaluasi
Prestasi belajar evaluasi yaitu kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judment yang dimilikinya dan kriteria yang dipakainya.
Prestasi Belajar Bidang Afektif (Afective Domain)
Prestasi belajar afektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Prestasi belajar bidang afektif pada Pendidikan Agama Islam antara lain berupa kesadaran beragama yang mantap.
Prestasi Belajar Bidang Psikomotor (Psychomotor Domain)
Prestasi atau kecakapan belajar psikomotor adalah segala amal atau perbuatan jasmaniah yang kongkrit dan mudah diamati, baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka, sehingga merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya. Prestasi belajar bidang psikomotor pada Pendidikan Agama Islam antara lain kemampuan melaksanakan shalat, berwudhu, akhlak/perilaku, dan lain-lain.
Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang profesional mengetahui diperlukan suatu periode atau waktu untuk memahami konsep yang telah diajarkan kepada anak agar diperoleh tujuan atau hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru harus menyadari keberadaan anak dalam tahapan belajar Pendidikan Agama Islam. Menurut Mulyono Abdurrahman, ada empat tahapan prestasi belajar yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu :

Perolehan
Pada tahap ini anak telah terbuka terhadap pengetahuan baru tetapi belum secara penuh memahaminya. Anak masih memerlukan banyak dorongan dan pengaruh dari guru atau orang tua untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Contoh, kepada anak diperlihatkan pengetahuan tentang  shalat dan konsepnya dijelaskan sehingga anak mulai memahaminya.
Kecakapan
Pada tahap ini anak mulai memahami pengetahuan atau keterampilan tetapi masih memerlukan banyak latihan. Contoh, setelah anak memahami konsep dan pengetahuan tentang shalat, anak diberi banyak latihan dalam bentuk menghafal bacaan atau gerakan shalat, dan diberi macam-macam ulangan penguatan.
Pemeliharaan
Pada tahap ini anak dapat memelihara dan mempertahankan suatu kenerja taraf tingkat tinggi setelah pembelajaran langsung dan ulangan penguatan (reinforcement) dihilangkan. Contoh, anak dapat mengerjakan shalat secara cepat dan berurutan tanpa memerlukan pengarahan dan ulangan penguatan dari guru atau orang tua.
Generalisasi
Pada tahap ini anak telah memiliki atau menginternalisasikan pengetahuan yang dipelajarinya sehingga anak dapat menerapkan ke dalam berbagai situasi. Contoh, anak dapat mengerjakan berbagai macam shalat sesuai waktu dan kegunaannya, seperti shalat subuh di pagi hari, shalat dhuhur di siang hari, shalat hajat untuk terkabulnya doa, menghormati kepada orang yang lebih tua, mengasihi kepada yang lebih muda, dan lain-lain.
Problema belajar Pendidikan Agama Islam atau pendidikan umum tidak hanya terbatas pada ruang lingkup di sekolah saja, akan tetapi di dalam keluarga, di masyarakat dan adat istiadat serta keadaan geografis juga mempengaruhi belajar dan prestasi belajar seseorang. Keberhasilan belajar dan prestasi belajar seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal  atau  eksternal. Faktor  internal  adalah segala faktor yang bersumber dari dirinya sendiri, seperti faktor psikologis dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal yaitu segala faktor yang bersumber dari luar dirinya sendiri, seperti cuaca, ekonomi, agama, keluarga, sekolah dan sebagainya. Menurut Sumadi Suryabrata, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi dua faktor. Faktor - faktor yang berasal dari luar dirinya atau faktor eksogin, faktor ini digolongkan menjadi dua bagian, yaitu :
Faktor - faktor sosial
  Faktor Sosial, seperti lingkungan sekolah, keadaan guru, teman-teman belajar, masyarakat dan tetangga, serta orang tua atau keluarga sendiri, (sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, tata letak rumah dapat berdampak pada baik buruknya kegiatan belajar siswa yang pada gilirannya berpengaruh terhada prestasi belajar anak), peran keluarga dan pengaruh yang ditimbulkannya bukan hanya berdampak pada prestasi belajar saja tetapi juga cenderung anak berperilaku menyimpang.
Faktor - faktor non sosial
Faktor Nonsosial, seperti gedung sekolah dan letaknya, kondisi dan jarak jalan ke sekolah, rumah tempat tinggal siswa, media pembelajaran belajar, cuaca, suhu, waktu belajar yang digunakan (ada anggapan waktu belajar tidak berpengaruh hasil belajar, tetapi kesiapan sistem memori siswa dalam mengelola, dan menyerap item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari), dan lain - lain. Faktor - faktor yang berasal dari dirinya sendiri atau indogin, juga digolongkan menjadi dua bagian yaitu :

Proposal skripsi bagian 1

PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS V SD NEGERI 3 PURWOSARI, KECAMATAN WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2015/2016




Disusun Oleh :
Nama :
NIM   :
Jurusan Pendidikan Agama Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul Ulum Surakarta
(STAIMUS)
2016
LATAR BELAKANG MASALAH
Televisi kini telah menjadi salah satu bagian yang penting dalam keluarga. Hampir setiap rumah memiliki televisi. Tidak jarang kegiatan lainnya pun dilakukan sambil menonton televisi. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan televisi sebagai pengasuh, guru, penghibur atau bahkan sarana promosi dagang (Majid, 2009).
Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar memberikan dampak yang negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak (Sulastowo, 2009). Televisi sebagai media audio visual, mampu merebut 94% saluran masuknya informasi kedalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka tonton di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Dengan demikian terutama bagi anak - anak yang pada umumnya meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tersebut akan mengikuti acara televisi yang ditonton (Majid, 2009)
Berdasarkan hasil penelitian badan kesehatan dunia WHO pada 2004 bahwa kebiasaan menonton televisi yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan siaran televisi kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak - anak (Zubaedi,2005).
Fakta tentang pertelevisian Indonesia pada tahun 2002 bahwa jam tonton televisi anak-anak 5 - 8 jam/hari atau 1.560 - 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000 jam/tahun, 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasan, seks dan mistik yang berlebihan dan terbuka. Terdapat 800 judul acara anak dengan 300 kali tayang selama 160 jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam x 7 hari = 168 jam, 40% waktu tayang  di isi iklan yang jumlahnya 1.200 iklan/minggu, jauh di atas rata-rata dunia 561 iklan/minggu (Majid, 2009) .
Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Anwas, 2008).
Berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron - sinetron dan film - film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu mempengaruhi para pemirsannya (anak - anak, remaja, dan orang tua) untuk terus menyaksikan acara demi  cara yang dikemas sedemikian rupa, sehingga membuat pemirsanya terkagum - kagum dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang banyak anak - anak lebih suka berlama - lama didepan televisi dari pada belajar, bahkan hampir lupa akan waktu makannya. Problematika yang terjadi di lingkungan sekarang dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.
SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri merupakan SD yang sampai saat ini belum memiliki prestasi Pendidikan Agama Islam yang menonjol dibandingkan dengan SD di sekitar wilayah Wonogiri. Jumlah murid yang tidak banyak dan wilayah yang masih dalam kondisi pedesaan menyebabkan frekuensi belajar anak kurang yang diketahui dari lebih banyaknya siswa yang memiliki nilai Pendidikan Agama Islam berada dibawah rata - rata.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 5 siswa Kelas V di SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri, mereka selama tiga tahun terakhir tidak mengalami peningkatan maupun penurunan prestasi Pendidikan Agama Islam secara signifikan, selanjutnya diketahui bahwa terdapat 4 murid yang menyatakan nonton televisi kurang lebih 5 jam sehari sedangkan 3 yang lain mengaku hanya 2 jam sehari.
Dari hasil observasi yang didapat dari buku laporan siswa diketahui bahwa 3 murid yang frekuensi menonton lebih kecil memiliki prestasi Pendidikan Agama Islam yang lebih baik dibandingkan 4 murid yang memiliki frekuensi menonton televisi yang lebih lama. Prestasi belajar pada dunia pendidikan adalah hasil pencapaian seseorang selama mengikuti pelajaran di sekolah yang berbentuk skor atau nilai (Sukmana, 2004). Pengukuran prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan tes, ujian dan ulangan.
Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
“Apakah ada hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri?”
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan antara intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Tujuan Khusus
Untuk mendeskripsikan intensitas menonton televisi siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Untuk mendeskripsikan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Untuk menganalisis hubungan antara intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas V SD Negeri 3 Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Manfaat Penelitian
Manfaat Akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk memperkaya penelitian dan sumber bacaan serta ilmu khususnya untuk mahasiswa/mahasiswi STAIMUS jurusan tarbiyah.
Penelitian ini bisa digunakan untuk buku referensi penulisan skripsi di masa yang akan datang.
Manfaat Teoritik
Secara teoritis, sebagai wadah untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama penelitian dan menjadi mahasiswa Staimus jurusan pendidikan agama islam.
Memperkaya dan menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya bagi mahasiswa Staimus jurusan pendidikan agama islam.

Manfaat Praktis
Bagi Guru SD Negeri 3 Purwosari
Sebagai bahan kajian untuk guru SDN III Purwosari agar lebih memperhatikan kebiasaan peserta didiknya.
Sebagai pedoman dalam menentukan peningkatan profesionalisme kerja melalui peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas V SD Negeri 3 Purwosari, khususnya pada pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bagi Orang Tua/Wali Murid SD Negeri 3 Purwosari
Untuk lebih mengawasi anak ketika melihat televisi dan belajar.
Sebagai dasar untuk membatasi anak dalam menonton televisi di rumah.
Bagi Siswa Kelas V SD Negeri 3 Purwosari
Bisa lebih fokus untuk belajar dan mengurangi menonton televisi untuk lebih fokus pada kegiatan yang bersifat mendidik baik dari akademis maupun ketrampilan.
Menyadari bahwa televisi bukanlah satu - satunya media belajar.

KAJIAN PUSTAKA
Intensitas Menonton Televisi
Kata intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat (Echols, 1993). Menurut Hazim (2005), bahwa intensitas adalah kebulatan tenaga yang dikerahkan untuk suatu usaha. Jadi intensitas secara sederhana dapat dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan. Perkataan intensitas sangat erat kaitannya dengan motivasi, antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Intensitas merupakan realitas dari motivasi dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu peningkatan prestasi, sebab seseorang melakukan usaha dengan penuh semangat karena adanya motivasi sebagai pendorong pencapaian prestasi. Nuraini (2011) menyatakan intensitas memiliki beberapa indikator yaitu sebagai berikut :
Motivasi
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme (baik manusia maupun hewan) yang mendorongnya untiuk melakukan sesuatu. Disini motivasi berarti pemasok daya untuk berbuat atau bertingkah laku secara terarah. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri individu yang dapat melakukan tindakan, termasuk didalamnyan adalah perasaan menyukai materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang mendorong untuk melakukan tindakan karena adanya rangsangan dari luar individu, pujian dan hadiah atau peraturan sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan seterusnya, 12 merupakan contoh konkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Durasi kegiatan
Durasi kegiatan merupakan berapa lamanya kemampuan penggunaan untuk melakukan kegiatan. Dari indikator ini dapat dipahami bahwa motivasi akan terlihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan.
Frekuensi kegiatan
Frekuensi dapat diartikan dengan kekerapan atau kejarangan kerapnya, frekuensi yang dimaksud adalah seringnya kegiatan itu dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Misalnya dengan seringnya siswa melakukan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
Presentasi
Presentasi yang dimaksud adalah gairah, keinginan atau harapan yang keras yaitu maksud, rencana, cita - cita atau sasaran, target dan idolanya yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Bisa dilihat dari keinginan yang kuat bagi siswa untuk belajar.